Rabu, 30 Oktober 2013

MAKALAH HADITS TENTANG SHOLAT



HADITS TENTANG SHOLAT
A.  Pendahuluan
Hadits adalah sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’an. Oleh karena itu, kewajiban mengikuti, kembali, dan berpegang teguh pada hadits  merupakan perintah Allah SWT dan juga perintah Nabi Saw, pembawa syari’at yang agung. Sebagian besar ayat-ayat al-Qur’an secara tafshili (rinci) perlu dijelaskan dengan hadits. Namun persoalannya adalah bahwa untuk memahami suatu hadits dengan baik, tidaklah mudah. Untuk itu diperlukan seperangkat metodologi dalam memahaminya.
Dalam memahami hadits, tidak cukup hanya melihat teksnya saja, tetapi perlu melihat konteksnya, khususnya ketika hadits tersebut mempunyai asbabul wurud, meskipun tidak semua hadits memilki asbabul wurud. Dalam semua hal ihwal kaum muslimin semua sudah teratur rapi di dalam sumber hukum yang kedua tersebut selaku sebagai penjelas bagi sumber hukum yang pertama yaitu Al-Quran. Termasuk hal ihwal seorang muslim yang sangat urgen yaitu ibadah shalat. Shalat merupakan ibadah mahdloh yang dilakukan mukallaf dalam rangka menyembah Tuhannya. Bahkan dikatakan, bahwa shalat merupakan ibadah yang pertama kali akan dihitung pada saat hari akhir kelak. Apakah shalatnya baik atau tidak. Maka dengan dalih tersebut shalat merupakan ibadah yang urgen yang harus kita ketahui berikut dengan dasar-dasarnya. Maka dalam makalah ini kami akan membahas tentang hadits yang berkaitan dengan sholat.




B.  Pembahasan
1.    Pengertian sholat
Sholat diambil dari istilah bahasa arab صَلَّى yang mempunyai arti doa. Sedangkan menurut istilah adalah ibadah yang tersusun dari beberapa perkatan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, diakhiri dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat dan rukun yang ditentukan. Sholat merupakan taklif syar’i yang diberikan kepada mukallaf sebagai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.
2.    Hadits yang berkaitan dengan sholat
Hadits yang berkaitan dengan shalat sangat banyak jumlahnya, karena shalat mencakup berbagai macam hal, seperti sunat sebelum shalat, syarat dan rukun shalat, hal-hal yang membatalkan shalat, shalat sunnat dan lain sebagainya. Maka disini pemakalah sedikit memberikan hadits tersebut beserta penjelasan yang diperlukan meski tidak semua aspek yang terkait dengan shalat kami paparkan.
a.    Hadits tentang adzan
1)   Matan dan arti hadits
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ: إِذَا سَمِعْتُمْ اَلنِّدَاءَ, فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ  )مُتَّفَقٌ عَلَيْه( وَلِلْبُخَارِيِّ: عَنْ مُعَاوِيَةَ.  وَلِمُسْلِمٍ: عَنْ عُمَرَ فِي فَضْلِ اَلْقَوْلِ كَمَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ كَلِمَةً كَلِمَةً, سِوَى اَلْحَيْعَلَتَيْنِ, فَيَقُولُ: "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ"[1]
Artinya:  Dari Abu Sa’id al-Khudri RA., beliau berkata: Rasulullah  SAW. bersabda: “Jika kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh juru adzan itu.” (Muttafaq ‘alaih). Al-Bukhari sendiri telah mengemukakan hadits yang serupa melalui Muawiyah RA. Menurut riwayat Muslim yang dikemukakan melalui Umar r.a ketika membahas tentang keutamaan mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muadzin, kalimat demi kalimat selain al-hay’alatain. Jika muadzin membaca al-hayalatain, maka pendengar hendaklah menyahutnya dengan membaca
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ  (Tidak ada kekuatan dan tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah).
Matan  yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori seperti tertera dalam kitab Shohihnya yaitu
إِذَا سَمِعْتُمْ اَلنِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ[2]  
Artinya: “Jika kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh juru adzan itu.”
Begitu juga Imam Muslim dalam kitab Shahihnya menggunakan redaksi matan  yang sama dengan Imam Bukhari.
2)   Sanad hadits
Dari jalur Imam Bukhori RA. yaitu Bukhori – Abdullah bin Yusuf – Malik – Ibn Sihab – ‘Atha bin Yazid – Abi Sa’id Alhadri – Rosulullah SAW..[3] Sedangkan dari jalur Imam Muslim RA. yaitu Muslim ­– Yahya bin Yahya – Malik – Ibn Sihab – ‘Atho bin Yazid – Rasulullah SAW.[4]
3)   Penjelasan isi hadits
Menjawab adzan yang dilakukan oleh pendengar disebut hikayah al-adzan (meniru bacaan adzan), yaitu dengan cara meniru semua sebutan lafadz adzan kecuali  al-hayalatain  maka jawaban kedua-dua kalimat adalah membaca kalimat hawqalah yaitu
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ  
 Hikmah menjawab adzan yang dilakukan oleh orang yang mendengarnya adalah bersegera datang menuju ke tempat shalat. Ini berarti dia telah memenuhi seruannya dengan ucapan sekaligus perbuatannya, yaitu berwudlu dan berangkat ke masjid untuk mengerjakan shalat berjamaah. Menjawab adzan yang dilakukan oleh orang yang medengarnya tidak semata-mata bertujuan meniru suara adzan yang kemudian menyeru umat manusia mengerjakan shalat, sebaliknya ia bertujuan membangkitkan perasaan. Dengan membaca hawqalah  seseorang telah mengakui kelemahan yang ada pada dirinya sekaligus memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan ibadah yang mulia ini. Dengan demikian, orang yang mendengar adzan itu mendapat ganjaran pahala setelah membaca hawqalah yang merupakan respon ke atas ucapan al-hayalatain yang dikumandangkan oleh juru adzan.
Hukum menjawab adzan ialah sunat, dan dianggap sudah memadai apabila adzan yang dikumandangkan oleh seorang muadzin telah dijawab meskipun di kawasan tersebut ramai orang yang mengumandangkan adzan. Adzan pertama untuk fajar kadzib mesti dijawab, karena Islam telah menyebutnya sebagai adzan dan oleh karenanya, ia sunat untuk dijawab.[5]
4)   Fiqh Hadits
a)    Disyariatkan menjawab adzan yang dikumandangkan muazzin sama ada bagi orang yang dalam keadaan bersuci ataupun berhadas, wanita yang haid maupun yang berjunub, sebab jawaban itu merupakan berzikir kepada Allah dan dibolehkan untuk melakukan zikir. Namun menjawab adzan tidak boleh dilakukan oleh orang yang sedang membuang air dan orang yang sedang bersetubuh.
b)   Hukum menjawab adzan adalah sunat, kerana ulama telah sepakat mengenainya. Kesepakatan inilah yang memalingkan pengertian wajib di dalam perintah yang terkandung di dalam sabda Rasulullah (s.a.w): “Maka ucapkanlah…”
c)    Orang yang mendengar al-hay’alatain hendaklah menjawab dengan al-hawqalatain.
d)   Keutamaan ikhlas di dalam setiap beramal. Amal yang diterima oleh Allah merupakan anugerah yang besar hingga seseorang yang melakukannya akan masuk ke dalam syurga.[6]
b.    Hadits tentang bacaan surat Al-Fatihah ketika shalat
1)   Matan dan arti hadits
وَعَنْ عُبَادَةَ  بْنِ الصَامِتِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الَله صلي الله عليه و سلم: لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَيَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْأَنِ. )متفق عليه([7]
Artinya: DariUbadah ibn al-Shamit RA. beliau berkata: Rasulullah SAW. pernah bersabda: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummu al-Qur‟an.” (Muttafaq alaih)
Adapun matan  yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori berbunyi:
لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَيَقْرَأْ  بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ[8]
Artinya: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca fatihatil kitab” Jadi ada sedikit perbedaan disitu tentang matan  tersebut, begitu juga Imam Muslim dalam kitab Shahihnya menggunakan kata bifatihatil kitabi, tidak dengan bi ummil qur’an.
2)   Sanad hadits
Dari jalur Imam Bukhori RA. yaitu Bukhori – Ali bin Abdillah – Sufyan – Zuhri – Mahmud bin Rabi’ ‘Ubadah bin Shamit – Rasulullah SAW.[9]
Dari jalur Imam Muslim RA. Ada dua jalur yang menuju ke Yunus. Yaitu Muslim – Abu Thohir – Abu Wahb – Yunus, – ibn Syihab – Mahmud bin Robi’ – Ubadah bin Shamit – Rasulullah SAW. Kemudian Muslim – Harmalah bin Yahya – Abu Wahb – Yunus – ibn Syihab – Mahmud bin Robi’ – Ubadah bin Shamit – Rasulullah SAW.[10]
3)   Penjelasan isi hadits
Membaca Surah al-Fatihah di dalam shalat, baik dalam shalat sirriyah ataupun shalat jahriyyah, shalat fardlu maupun shalat sunat, merupakan salah satu rukun shalat sebagaimana yang telah ditegaskan oleh beberapa hadits yang jumlahnya banyak. Inilah pendapat Imam Malik, Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad berkenaan dengan shalat seseorang yang bersendirian dan bagi imam. Ini ditegaskan hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan al-Daruquthni yang menunjukkan ketiadaan shalat, kerana shalat yang sudah dinafikan kesahihannya tidak termasuk shalat yang disyariatkan. Di samping itu, Nabi (s.a.w) ketika mengetahui Khallad ibn Rafi’ yang melakukan shalat tidak sempurna, baginda segera menyuruhnya membaca Ummu al-Kitab dan bersabda kepadanya: “Kemudian lakukanlah hal yang serupa dalam semua shalatmu itu.” Nabi (s.a.w) membaca Surah al-Fatihah dalam setiap rakaat dan baginda bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat!
Surah Al-fatihah dinamakan “Ummu al-Kitab” karena di dalamnya mengandungi semua makna yang terdapat di dalam al-Qur‟an berupa pujian kepada Allah (s.w.t) dengan sanjungan dan pujian yang layak bagi kebesaran dan keagungan-Nya, beribadah dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan serta mengerjakan apa yang dijanjikan dan menghindari apa yang dilarang. Di samping itu, Surah al-Fatihah mengandung perihal tentang kehidupan dan apa yang akan terjadi pada hari kemudian, pujian kepada orang yang mendapat petunjuk dan celaan terhadap orang yang sesat, dan sebagainya.[11]
c.    Hadits tentang shalat sunat malam
1)   Matan dan arti hadits
عَنْ إبْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله عنهما قَالَ َ قَالَ رَسُوْلُ الَله صلي الله عليه و سلم صَلاَةُ اللَيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإذَا خَشِيَ أحَدَكُم الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى )متفق عليه([12]
Artinya: Daripada Ibn Umar RA. beliau berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Shalat yang dilakukan pada waktu malam hari dikerjakan dua rakaat dua rakaat. Jika seseorang di antara kamu merasa khawatir akan datangnya waktu Subuh, maka kerjakanlah shalat satu rakaat sebagai witir sebagai penutup bagi semua shalat yang dilakukannya.” (Muttafaq Alaih)
Matan  yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori
صَلاَةُ اللَيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإذَا خَشِيَ أحَدَكُم الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى[13]
Begitu juga dari jalur Imam Muslim, matan dari  tersebut sama persis tidak ada perbedaannya.
2)   Sanad hadits
Dari jalur Imam Bukhori RA. yaitu Bukhori – Abdullah bin Yusuf – Malik – Nafi’ dan Abdullah bin Dinar – ibn Umar – Rasulullah SAW.[14]
Dari jalur Imam Muslim RA. Yaitu Muslim – yahya bn Yahya – Malik – nafi’ dan Abdullah bin Dinar – Ibn Umar – Rasulullah SAW. [15]

3)   Penjelasan isi hadits
Shalat tahajjud pada waktu malam hari mempunyai keutamaan yang luar biasa. Shalat tahajud dilakukan dua rakaat dua rakaat dengan perkataan lain bahawa seseorang hendaklah mengucapkan salam pada setiap dua rakaat. Ini bagi memberikan peluang baginya untuk beristirehat sesudah salam dan untuk menunaikan keperluannya apabila ada urusan penting lain yang datang secara mengejut.
Waktu shalat ini panjang hingga terbit fajar. Jika seseorang merasa khawatir waktu shalat Subuh hampir tiba, maka sebaiknya dia mengerjakan shalat satu rakaat untuk mewitirkan semua rakaat genap yang telah dikerjakannya sepanjang malam. Ini merupakan satu kemudahan dalam mengerjakan ibadah.[16]
4)   Fiqh hadits
a)    Disunatkan mengerjakan shalat sunat pada waktu malam hari.
b)   Apa yang lebih afdhal ketika mengerjakan shalat sunat pada waktu malam hari adalah mengucapkan salam untuk setiap dua rakaat.
c)    Menentukan dua rakaat sebelum witir.[17]

C.  Penutup
Shalat merupakan ibadah mahdlah yang dilakukan kaum muslimin untuk menyembah Allah SWT. Maka kita selaku umat muslim tentunya harus tahu tentang shalat, dan tentu dasar-dasar dalil yang berkaitan dengan shalat. Telah kami paparkan sedikit gambaran dasar-dasar  yang berkenaan dengan shalat dengan penjelasan yang seadanya. Semoga apa yang kami tulis dapat bermanfaat bagi pembaca. Kesalahan yang penulis buat di makalah ini mohon masukan pembaca demi untuk kebenaran. Terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Asqolany. Ibn Hajar. TT. Bulughul Marom, Surabaya: Dar Al-Ilmi
Al-Bukhari, Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il. TT.  Matan Bukhari Bihasiyati Sanady. Indonesia: Haramain
Al-Qusyairi. Abi Husain Muslim Bin Hajjaj Ibn Muslim. TT. Jami’us Shahih Juz 2. Beirut: Dar Al-Fikr
Fauzi. Nor Hasanuddin H.M. 2010. Terjemah Ibanatul Ahkam. Kuala Lumpur: Al-Hidayah Publication


[1] Ibn Hajar Al-Asqolany. Bulughul Marom, (Surabaya Dar Al-Ilmi: tt.) Hal 39

[2] Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari. Matan Bukhari Bihasiyati Sanady (Indonesia. Haramain: tt) hal 115
[3] Ibid
[4] Abi Husain Muslim Bin Hajjaj Ibn Muslim Al-Qusyairi. Jami’us Shahih Juz 2 (Beirut Dar Al-Fikr tt.) hal 4
[5] Nor Hasanuddin H.M. Fauzi. Terjemah Ibanatul Ahkam (Kuala Lumpur . Al-Hidayah Publication: 2010) hal 247
[6] Ibid. hal 248
[7] Ibn Hajar Al-Asqolany. Bulughul Marom, (Surabaya Dar Al-Ilmi: tt.) hal. 56
[8] Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari. Matan Bukhari Bihasiyati Sanady  (Indonesia. Haramain: tt) hal. 138
[9] Ibid.
[10] Abi Husain Muslim Bin Hajjaj Ibn Muslim Al-Qusyairi. Jami’us Shahih Juz 2 (Beirut. Dar Al-Fikr: tt.) hal. 9
[11] Nor Hasanuddin H.M. Fauzi. Terjemah Ibanatul Ahkam (Kuala Lumpur .Al-Hidayah Publication: 2010) hal 353
[12] Ibn Hajar Al-Asqolany. Bulughul Marom, (Surabaya Dar Al-Ilmi: tt.) Hal 74
[13] Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari. Matan Bukhari Bihasiyati Sanady (Indonesia. Haramain: tt) hal 176
[14] Ibid.
[15] Abi Husain Muslim Bin Hajjaj Ibn Muslim Al-Qusyairi. Jami’us Shahih Juz 2 (Beirut Dar Al-Fikr. tt.) hal 171
[16] Nor Hasanuddin H.M. Fauzi. Terjemah Ibanatul Ahkam (Kuala Lumpur .Al-Hidayah Publication: 2010) hal
[17] Ibid hal 462

1 komentar: