A. Pendahuluan
Zaman Pertengahan di Eropa adalah zaman keemasan bagi kekristenan. Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas, karena dalam abad-abad itu perkembangan alam pikiran Eropa sangat terkendala oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama.[1]
Setelah filsafat Yunani sampai ke daratan Eropa, filsafat mendapat lahan baru dalam pertumbuhannya. Karena bersamaan dengan agama kristen. Sehingga membentuk formulasi baru, maka muncullah filsafat Eropa yang sesungguhnya sebagai penjelmaan filsafat Yunani setelah berintegrasi dengan agama kristen.[2]
Disamping itu pada abad pertengahan juga disebut sebagai abad kegelapan[3] mengapakah demikian? Apakah sebenarnya penyebab dari penamaan abad pertengahan sebagai abad kegelapan?
B. Isi
Setelah filsafat Yunani mengalami kemegahan dan kejayaannya dengan hasil yang sangat gemilang, yaitu melahirkan peradaban Yunani. Menurut pandangan sejarah filsafat dikemukakan bahwa peradaban Yunani merupakan titik tolak peradaban manusia di dunia. Maka pandangan sejarah filsafat dikemukakan manusia di dunia. Maka giliran selanjutnya adalah warisan peradaban Yunani jatuh ketangan kekuasaan Romawi. Kekuasaan Romawi memperlihatkan kebesaran dan kekuasaannya hingga daratan Eropa (Britania), tidak ketinggalan pula pemikiran filsafat Yunani juga ikut terbawa. Hal ini berkat peran Caesar Augustus yang mencipta masa keemasan kesusastraan latin, kesenian dan arsitektur Romawi.[4]
Dengan demikian, di benua Eropa filsafat Yunani akan tumbuh dan berkembang dalam suasana yang lain. Filsafat Eropa merupakan sesuatu yang baru, suatu formulasi baru, pohon filsafat masih lama (dari Yunani), tetapi tunas yang baru (karena pengaruh agama kristen) memungkinkan perkembangan dan pertumbuhan yang rindang.[5]
Filsafat barat abad pertengahan (476-1492 M) bisa dikatakan abad kegelapan, karena pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati.[6]
Memang pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia, sehingga manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya. Juga para ahli pikir pada saat itu tidak memiliki kebebasan berpikir. Pihak geraja melarang diadakannya penyelidikan-penyelidikan berdasarkan rasio tentang agama. Karena itu kajian terhadap agama/teologi yang tidak berdasarkan ketentuan gereja akan mendapatkan larangan yang ketat.[7]
Yang berhak melaksanakan penyelidikan terhadap agama hanyalah pihak gereja. Walaupun demikian, ada juga yang melanggar larangan tersebut dan mereka dianggap orang murtad dan kemudian diadakan pengejaran (inkuisisi). Pengejaran terhadap orang-orang murtad ini mencapai puncaknya pada saat Paus Innocentinius III di akhir abad XII, dan yang paling berhasil dalam pengejaran orang-orang murtad ini di Spanyol.[8]
Ciri- ciri pemikiran filsafat barat abad pertengahan, adalah:
1. Cara berfilsafatnya dipimpin gereja
2. Berfilsafat di dalam lingkungan ajaran Aristoteles
3. Berfilsafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain[9]
Masa ini penuh dengan dominasi gereja, yang tujuannya untuk membimbing umat ke arah hidup yang saleh. Tetapi di sisi lain, dominasi gereja ini tanpa memikirkan martabat dan kebebasan manusia yang mempunyai perasaan, pikiran, keinginan, dan cita-cita untuk menentukan masa depannya sendiri.[10]
Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi dua masa yaitu :
- Masa Patristik
Istilah Patristik dari kata latin pater atau bapak, yang artinya para pemimpin gereja. Para pemimpin gereja ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli pikir. Dari golongan ahli pikir inilah menimbulkan sikap yang beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat Yunani dan ada yang menerimanya.[11]
Bagi mereka yang menolak, alasannya karena beranggapan bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman Tuhan, tetapi tidak ada jeleknya menggunakan filsafat Yunani hanya diambil metodosnya saja (tata cara berpikir). Juga, walaupun filsafat Yunani sebagai kebenaran manusia, akan tetapi manusia juga sebagai ciptaan Tuhan. Jadi, memakai/menerima filsafat Yunani diperbolehkan selama dalam hal-hal tertentu tidak bertentangan dengan agama.[12]
Perbedaan pendapat tersebut berkelanjutan sehingga orang-orang yang menerima filsafat Yunani menuduh bahwa mereka ( Orang-orang Kristen yang menolak filsafat Yunani ) itu munafik. Kemudian orang-orang yang dituduh munafik tersebut menyangkal, bahwa tuduhan tersebut dianggap fitnah dan pembelaan dari orang- orang yang menolak filsafat Yunani mengatakan bahwa dirinya yang benar-benar hidup sejalan dengan Tuhan.[13]
Akibatnya muncul upaya untuk membela agama kristen, yaitu para apologis (pembela iman kristen) dengan kesadarannya membela iman kristen tersebut adalah Justinus Martir, Irenaeus, Klemens, Origenes, Gregorius Nissa, Tertullianus, Diosios Arepagos, Aurelius Augustinus.[14]
1) Justinus Martir
Nama aslinya Justinus, kemudian nama Martir diambil dari istilah “Orang-orang yang rela mati hanya untuk kepercayaannya”.[15]
Menurut pendapatnya, agama kristen bukan agama baru, karena kristen lebih tua dari filsafat Yunani dan Nabi Musa dianggap sebagai awal kedatangan kristen. Padahal Nabi Musa hidup sebelum Socrates dan Plato. Selanjutnya dikatakan, bahwa filsafat Yunani itu mengambil dari kitab Yahudi. Pandangan ini didasarkan bahwa kristus adalah logos. Dalam mengembangkan aspek logosnya ini orang-orang Yunani ( Socrates, Plato dan lain-lain) kurang memahami apa yang terkandung dan memancar dari logosnya, yaitu pencerahan.[16]
Sehingga orang-orang Yunani dapat dikatakan menyimpang dari ajaran murni. Mengapa mereka menyimpang? Karena orang-orang Yunani terpengaruh oleh demon atau syetan. Demon atau syetan tersebut dapat mengubah pengetahuan yang benar kemudian dipalsukan. Jadi, agama kristen lebih bermutu dibanding dengan filsafat Yunani. Demikian pembelaan Justinus Martir.[17]
2) Klemens
Ia juga termasuk pembela kristen, akan tetapi ia tidak membenci filsafat Yunani. Sedangkan pokok-pokok pikirannya sebagai berikut :
a) Memberikan batasan-batasan terhadap ajaran kristen untuk mempertahankan diri dari otoritas filsafat Yunani.
b) Memerangi ajaran yang anti terhadap kristen dengan menggunakan filsafat Yunani
c) Bagi orang kristen, filsafat dapat dipakai untuk membela iman kristen dan memikirkan secara mendalam.[18]
3) Tertullianus
Ia dilahirkan bukan dari keluarga kristen, tetapi setelah melaksanakan pertobatan ia gigih membela kristen dengan fanatik. Ia menolak kehadiran filsafat Yunani, karena filsafat dianggap sesuatu yang tidak perlu. Baginya berpendapat, bahwa wahyu Tuhan sudahlah cukup, dan tidak ada hubungan antara teologi dengan filsafat. Tidak ada hubungan antara Yerussalem ( pusat agama ) dengan Yunani ( pusat filsafat ), tidak ada hubungan antara gereja dengan akademi, tidak ada hubungan antara kristen dan penemuan baru.[19]
Tertullias juga mengajarkan bahwa Tuhan adalah Pemegang kekuasaan dan peraturan. Kepatuhan kepada Tuhan merupakan kewajiban. Bila menantang Tuhan, kita akan masuk neraka, dan neraka itu benar-benar ada.[20]
4) Augustinus
Sejak mudanya ia telah mempelajari bermacam-macam aliran filsafat, antara lain Platonisme dan Skeptisisme. Ia telah diakui keberhasilannya dalam membentuk filsafat kristen yang berpengaruh besar dalam filsafat abad pertengahan, sehingga ia dijuluki sebagai guru skolastik yang sejati. Ia seorang tokoh besar di bidang teologi dan filsafat.[21]
Menurut pendapatnya, daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi pikiran manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak ada batasnya, yang bersifat kekal abadi. Artinya, akal pikir manusia dapat berhubungan dengan sesuatu kenyataan yang lebih tinggi.[22]
Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada dua pokok : Tuhan dan Manusia akan tetapi, dapat juga dikatakan bahwa seluruh ajarannya berpusat pada Tuhan. Kesimpulannya diambil karena ia mengatakan bahwa ia ingin mengenal Tuhan dan roh, tidak lebih dari itu.[23]
Akhirnya, ajaran Augustinus berhasil menguasai sepuluh abad dan mempengaruhi pemikiran Eropa. Perlu diperhatikan bahwa para pemikir Patristik itu sebagai pelopor pemikiran Skolastik. Mengapa ajaran Augustinus sebagai akar dari Skolastik dapat mendominasi hampir sepuluh abad, karena ajarannya lebih bersifat sebagai metode dari pada suatu system sehingga ajaran-ajarannya mampu meresap sampai masa Skolastik.[24]
- Masa Skolastik
Istilah skolastik adalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.[25]
Terdapat beberapa pengertian dari corak khas skolastik, yaitu :
1. Filsafat skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Karena skolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religious.
2. Filsafat skolastik adalah filsafat yang mengabdi kepada teologi, atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk. Dari rumusan tersebut kemudian muncul istilah : skolastik Yahudi, skolastik Arab, dan lain-lainnya.
3. Filsafat skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan ke dalam bentuk sintesa yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.
4. Filsafat skolastik adalah filsafat nasrani, karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.[26]
Filsafat skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor Religius
Faktor Religius dapat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. Yang dimaksud dengan faktor religius adalah keadaan lingkungan saat itu yang berperikehidupan religius. Mereka beranggapan bahwa hidup di dunia ini suatu perjalanan ke tanah suci Yerussalem. Dunia ini bagaikan negeri asing, dan sebagai tempat pembuangan limbah air mata saja (tempat kesedihan). Sebagai dunia yang menjadi tanah airnya adalah surga. Manusia tidak dapat sampai ke tanah airnya ( surga ) dengan kemampuannya sendiri, sehingga harus ditolong.[27]
Mereka juga berkeyakinan bahwa Isa anak Tuhan berperan sebagai pembebas dan pemberi bahagia. Ia akan memberi pengampunan sekaligus menolongnya. Maka hanya dengan jalan pengampunan inilah manusia dapat tertolong agar dapat mencapai tanah airnya (surga). Anggapan dan keyakinan inilah yang dijadikan dasar pemikiran filsafatnya.[28]
2. Faktor Ilmu Pengetahuan
Pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran yang diupayakan oleh biara-biara, gereja ataupun dari keluarga istana, dan kepustakaannya diambilkan dari para penulis Latin, Arab (Islam) dan Yunani.[29]
Masa Skolastik terbagi menjadi empat, yaitu :
1. Skolastik Awal (800-1200)
Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Masehi, pemikiran filsafat Patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan abad ke-7 dikatakan abad kacau. Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi serangan terhadap Romawi, sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuh yang telah dibangun selama berabad-abad lamanya.[30]
Baru pada abad ke-8 masehi, kekuasaan berada di bawah Karel Agung (742-814) baru dapat memberikan suasana ketenangan dan kehidupan manusia serta pemikiran filsafat yang kesemuanya menampakkan mulai adanya kebangkitan. Kebangkitan inilah merupakan kecemerlangan abad pertengahan, dimana arah pemikirannya berbeda sekali dengan sebelumnya.[31]
Pada saat inilah merupakan zaman baru bagi bangsa Eropa yang ditandai dengan Skolastik yang di dalamnya banyak diupayakan ilmu pengetahuan yang dikembangkan di sekolah-sekolah. Pada mulanya Skolastik ini timbul pertama kalinya di biara Italia Selatan dan akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan Belanda.[32]
2. Skolastik Puncak
Masa ini merupakan kejayaan skolastik yang berlangsung dari tahun 1200-1300, dan masa ini juga disebut masa berbunga. Karena pada masa itu ditandai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang secara bersama-sama ikut menyelenggarakan atau memajukan ilmu pengetahuan, di samping juga peranan universitas sebagai sumber atau pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.[33]
Terdapat beberapa faktor mengapa pada masa skolastik mencapai pada puncaknya, yaitu :
a. Adanya pengaruh Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12, sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
b. Tahun 1200 didirikan Universitas Almamater di Perancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai awal ( embrio ) berdirinya : Universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellier, di Cambridge dan lain-lainnya.
c. Berdiri ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan, sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian dimana kebanyakan tokoh-tokohnya memegang peran di bidang filsafat dan teologi, seperti : Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura, J. D. Scotus, William Ocham.[34]
3. Skolastik Akhir
Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya, sehingga mempelihatkan stagnasi (kemandegan). Di antara tokoh-tokohnya adalah William Ockam (1285-1349), Nicolas Cusasus (1401-1464).[35]
a. William Ockham
Ia seorang ahli pikir inggris yang beraliran Skolastik. Karena ia terlibat dalam pertengkaran umum dengan Paus John XXII, ia dipenjara di Avignon, tetapi dapat melarikan diri dan mencari perlindungan Kaisar Louis IV. Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengetahui barang-barang atau kejadian-kejadian individual, dan konsep-konsep umum tentang alam hanya merupakan abstraksi buatan tanpa kenyataan.[36]
b. Nicolas Cusasus
Menurut pendapat Nicolas Cusasus terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu lewat indera, dan kedua lewat akal, dan ketiga lewat intuisi. Dengan indera manusia mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda yang berjasad (sifatnya tidak sempurna). Dengan akal manusia bisa mendapatkan bentuk yang abstrak yang telah ditangkap oleh indera. Dan yang ketiga intuisi, dalam intuisi manusia akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi, karena dengan intuisi manusia dapat mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Karena keterbatasan akal itu sendiri maka dengan intuisiah diharapkan sampai pada kenyataan, yaitu Tuhan.[37]
4. Skolastik Islam
Dalam bukunya, Hasbullah Bakry menerangkan bahwa istilah skolastik islam jarang dipakai orang dalam kalangan umat islam. Yang biasa dipakai adalah istilah ilmu kalam atau filsafat islam.[38]
Para Scholastic Islam yang pertama mengenalkan filsafat Aristoteles diantaranya adalah Ibnu Rusyd, ia mengenalkan kepada orang-orang barat yang belum mengenal filsafat Aristoteles.[39]
Yang termasuk para ahli pikir islam (Pemikir Arab atau Islam pada masa skolastik) antara lain : Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Rusyd. Peranan mereka besar sekali, yaitu :
a. Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang barat belum pernah mengenal filsafat Aristoteles, sehingga yang dikenal hanya buku logika Aristoteles saja.
b. Apabila orang barat mengenal Aristoteles, itu adalah berkat tulisan dari ahli pikir islam terutama Ibnu Rusyd sehingga Ibnu Rusyd dikatakan sebagai guru besar para ahli pikir skolastik latin.
C. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwaa pada abad pertengahan disebut juga sebagai abad kegelapan karena apa karena pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin gereja. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati. Itulah penyebab mengapa di abad pertengahan disebut juga abad kegelapan.
DAFTAR PUSTAKA
Mustansyir, Rizal,dkk. 2011. Filsafat Ilmu.Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Tafsir,Ahmad. 2010. Filsafat Umum.Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,
Muzairi.2009.Filsafat Umum.Yogyakarta: Teras
[1] Rizal Mustansyir & Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar 2011) hal 66
[2] Muzairi, Filsafat Umum, (Yogyakarta: Teras 2009) hal 84
[3] Ibid, hal 85
[4] Ibid, hal 84
[5] Ibid, hal 85
[6] Anonymous, ciri-pemikiran-filsafat-abad, diambil dari http://artikel-hadhy.blogspot.com/2008/11/.html akses tanggal 29 Oktober 2011
[7] Op.cit, Muzairi hal 85
[8] Op.cit, Muzairi, hal 85
[9] Op.cit, Muzairi, hal 86
[10] Op.cit, Muzairi, hal 86
[11] Op.cit, Muzairi, hal 87
[12] Op.cit, Muzairi, hal 87
[13] Op.cit, Muzairi, hal 87
[14] Op.cit, Muzairi, hal 87
[15] Op.cit, Muzairi, hal 88
[16] Op.cit, Muzairi, hal 88
[17] Op.cit, Muzairi, hal 88
[18] Op.cit, Muzairi, hal 89
[19] Op.cit, Muzairi, hal 89
[20] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010 ) hal 83
[21] Op.cit, Muzairi, hal 90
[22] Op.cit, Muzairi, hal 90
[23] Op.cit, Ahmad Tafsir, hal 85
[24] Op.cit, Muzairi, hal 91
[25] Op.cit, Muzairi, hal 91
[26] Op.cit, Muzairi, hal 92
[27] Op.cit, Muzairi, hal 92
[28] Op.cit, Muzairi, hal 93
[29] Op.cit, Muzairi, hal 93
[30] Op.cit, Muzairi, hal 94
[31] Op.cit, Muzairi, hal 94
[32] Op.cit, Muzairi, hal 94
[33] Op.cit, Muzairi, hal 95
[34] Op.cit, Muzairi, hal 96
[35] Op.cit, Muzairi, hal 100
[36] Op.cit, Muzairi, hal 101
[37] Anonymous, ciri-pemikiran-filsafat-abad, diambil dari http://artikel-hadhy.blogspot.com/2008/11/ html akses tanggal 29 Oktober 2011
[38] Op.cit, Muzairi, hal 102
[39] Anonymous,f ilsafat-pada-abad-pertengahan, diambil dari http://anurahman.blogspot.com/2010/06/.html akses tanggal 29 Oktober 2011
[40] Op.cit, Muzairi, 102
Tidak ada komentar:
Posting Komentar